Puasa Ramadan Moment Menguatkan Muroqobatullah dan Kecintaan Kepada Sesama

Puasa Ramadan Moment Menguatkan Muroqobatullah dan Kecintaan Kepada Sesama
Oleh : Wahyu Priyanti,S.Pd,M.PdI
Puasa Ramadan adalah sebuah moment pendidikan dan pembinaan seorang hamba. Baik dalam hubungan dengan Allah maupun hubungan kepada manusia. Puasa yang berarti menahan (imsak) menahan diri dari sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT. Dengan menyadari kondisi diri yang berpuasa seorang hamba tidak akan mudah untuk berkata kotor, mencela, mencuri, marah-marah,ghibah dan lain-lain. Karena menyadari bahwa ia sedang berpuasa. Dalam konteks ini, seorang mukmin menyadari diri bahwa puasa adalah perisai yang akan membentengi diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak diridhoi oleh Allah. Sebagai ada seuah hadits yang menyatakan bahwa :
الصِّيَامُ جُنَّةٌ
“Puasa adalah perisai” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Suasana sendiri maupun ramai tidak akan menyebabkan seorang hamba untuk membatalkan puasa dengan makan dan minum dengan sengaja. Ada sebuah effort dan usaha untuk berbuat baik dengan membaca Al Qur’an, sholat, dzikir dan amalan-amalan yang lain, karena sebuah kesadaran adanya muroqobbatullah, perasaan merasa diawasi oleh Allah. Perasaan merasa diawasi oleh Allah akan menjadi perisai yang memuat seorang hamba menjaga dirinya dari hal-hal yang membuat Allah tidak ridho kepada amal-amal yang membuat Allah sayang kepada hamba. Dan kondisi seperti itu tepupuk dalam sebuah tempaan ramadan. Karena itu ramadan menjadi sebuah moment seorang hamba menghidupkan hati dengan perasaan merasa di awasi oleh Allah yang dihidupkan dengan ihsan.
Kebiasaan –kebiasaan baik yang terus menerus dilakukan secara istiqomah akan menjadi sebuah budaya. Yang harapannya jiwa muroqobatullah ini akan memberikan bekas setelah ramadan dalam kehidupannya bermasyarakat. Sebuah pemandangan yang indah ketika semangat dan nilai-nilai yang kita dapatkan ketika ramadan mampu kita hidupkan dan kita terapkan 11 bulan setelah ramadan hingga bertemu ramadan kembali. Indonesia akan menjadi negeri yang baldatun thoyyibatun warobbun ghofuur.
Selain ramadan menjadi sebuah sarana menguatkan ruh muroqobbatullah, Ramadan merupakan sebuah tempaan dan pendidikan seorang hamba dalam menanamkan kecintaan kepada sesama. Yang berlebih peduli kepada yang kurang. Puasa yang mengharuskan seorang hamba menahan lapar dengan tidak makan dan minum mendidik seorang hamba untuk merasakan kondisi yang dirasakan oleh orang yang kekurangan dengan merasakan rasa lapar, sehingga kondisi itu menguatkan panggilan jiwanya untuk berbagi dengan sesama.Syariat islam dengan adanya Zakat mengajarkan kita akan makna penting untuk peduli dan mau berbagi dengan sesama. Sebagaimana sebah hadits mengatakan bahwa
Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah beriman kepadaku orang yang kenyang semalaman sedangkan tetangganya kelaparan di sampingnya, padahal ia mengetahuinya." (HR At-Thabrani)
Karena itu Islam mendidik kita sebagai seorang hamba untuk menjadi hampa yang peka terhadap kondisi lingkungan. Berusaha menolong dan membantu sebelum diminta. Memberi sebelum orang meminta. Membiasakan berbagi dengan sesama semampu kita, mendidik jiwa untuk peduli sehingga selepas ramadan kebiasaan peduli dan berbagi ini menjadi sebuah karakter baru yang kita miliki.
Semoga Allah SWT senantiasa menuntun kita semua dan memudahkan kita beramal sholih selama ramadan dan membimbing kita setelah ramadan. Aamiin
Referensi
Sumber: https://muslim.or.id/30048-puasa-adalah-perisai-seorang-muslim.html
https://ramadhan.republika.co.id/berita/q9hkpr430/tak-beriman-jika-kita-kenyang-dan-tahu-tetangga-kelaparan?#:~:text=Dalam%20hal%20ini%2C%20Rasulullah%20SAW,(HR%20At%2DThabrani).
Share This Post To :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
- Tujuan Pendidikan Islam dalam Perspektif Tujuan Penciptaan Manusia dan Tujuan Pendidikan N
- Jurnal Syukur Bagi Kesehatan Mental
- Membangun Kesehatan Mental Gen Z di Era Digital
- Lima Manfaat Dream Mapping untuk Masa Depan Siswa
- Menulis Bagi Kesehatan
Kembali ke Atas


